Tidak banyak orang mengenal Eko Ramaditya Adikara yang sering dipanggil dengan sebutan Ramaditya. Begitu pula dengan saya, Saya mengenalnya setelah saya mengikuti sebuah talkshow IAIN Surakarta Membaca bersama Andy Flores Noya kemarin tanggal 6 November 2014 bertepatan dengan ulang tahun Andy di IAIN Surakarta. Talkshow tersebut bertemakan Membaca sebagai gaya hidup (Reading for Life stile). Awalnya saya heran kok sebagai gaya hidup maksudnya apa? saya rasa membaca adalah suatu hal yang biasa saja, hal ini mungkin karena saya jarang sekali membaca sehingga saya menganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang tidak ada istimewanya.

Pada Talkshow tersebut Andy mengajak seorang tunanetra bernama Ramaditya. Ramaditya adalah seorang tuna netra yang terlahir dalam keadaan buta bawaan. Dengan keterbatasan yang dimilikinya MasyaAllah dia memiliki kecerdasan melebihi orang normal lainnya. Saat ini Ramaditya telah menyelesaikan Study S2 nya beberapa bulan yang lalu. Ramaditya ini sosok tunanetra yang merasa bahwa dirinya tidak tuna netra karena dia dapat mengetahui semua yang ada di dunia ini dengan membaca. Sejak kecil Ramaditya suka membaca, dan yang lebih anehnya lagi dia bisa membaca di kegelapan karena dia membaca dengan menggunakan telinganya.
Pada Talkshow tersebut Andy membawa kita untuk lebih memaknai hidup dengan kesempurnaan yang kita miliki saat ini. Andy memperkenalkan Ramaditya dengan kelebihan yang dimilikinya sebagai seorang tuna netra bawaan yang memiliki banyak profesi yaitu dia seorang dosen, trainer, jurnalist dan penulis novel (mata ke dua dan hati kedua). Novelnya yang berjudul hati kedua ini dia tulis bersama seorang wanita yang saat ini telah berpulang ke rahmatullah, yaitu mbak Achi TM. Wanita tersebut adalah wanita yang membimbing rama dan menyekolahkan rama sehingga seperti saat ini.
Talkshow tersebut berlangsung dengan penuh haru tapi menghibur karena ternyata ramaditya seorang yang humoris. Rama menceritakan bahwa dengan kekurangannya ini dia sering sekali mengalami kecelakaan seperti pada saat di berjalan bersama temannya di kampusnya secara reflek teman yang berjalan bersamanya melompat tanpa memberi tahu rama selang beberapa detik kemudian ternyata rama sudah terjatuh di sebuah kubangan yang berisi genangan air, sontak teman nya bilang "Maaf, Rama saya lupa kalau kamu tuna netra", hal itu karena memang rama orang yang mudah bergaul bahkan dia merasa bukan seorang tuna netra oleh karena itu temannya sering kali lupa dengan kekurangan yang dia miliki.
Sungguh mengharukan, sedih rasanya melihat Ramaditya yang saat itu berusaha memperkenalkan dirinya dengan keterbatasan yang dia miliki MasyaAllah luar biasa menyentuh hatiku saat rama meperlihatkan dirinya mengkolaborasikan seruling dengan musik yang ada dalam laptopnya, lantunan musiknya bagus sekali. Mungkin inilah yang dikatakan bahwa membaca sebagai gaya hidup, karena rama menggunkan laptopnya untuk membaca beberapa novel dan artikel yang ada di internet dengan menggunakan telinganya karena laptopnya telah dilengkapi dengan aplikasi untuk tunanetra. Selain dengan laptopnya dia pun juga menggunakan android touch screen layaknya orang normal lainnya
MasyaAllah semoga ini bisa menjadi sebuah motivasi untuk menjadi orang yang mampu berkarya dengan kesempurnaan yang diberikan Allah kepada kita. Bismillah Ramaditya seorang tuna nutra bawaan saja mampu berkarya, kitapun juga harus bisa memberikan yang terbaik, mumpung masih diberikan kesempatan hidup dari Allah dengan kesempurnaan yang kita miliki.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar