Kamis, 13 November 2014

Online Business?, Bisa gak ya?

Saya mengenal teknologi internet belum begitu lama meskipun awalnya saya sudah cukup akrab dengan laptop karena benda itulah yang selalu menemaniku menimba ilmu di FIB jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP Semarang. Saya baru tertarik dengan internet saat booming adanya android phone, seperinya menarik dan saya mulai mencobanya dengan mengganti hp saya dengan android phone sony.  Karena gaptek ya awalnya ngerasa susah saat mengoperasikan android phone saya. Tapi karena tiap hari dipegang dan dimanfaatkan sekarang jadi jatuh cinta deh. Seneng karena setiap hari selalu on tanpa harus menghandalkan WIFI yang disediakan di tempat tempat tertentu. Mulai deh belajar blog secara otodidak dengan mbah google meskipun sampai saat ini tetep aja blognya belum maksimal. selain itu juga mulai search beberapa web bisnis online, karena aku berfikir gimana ya caranya supaya punya tambahan dari bisnis lain.
Awalnya saya menganggap  online Business itu suatu hal yang kurang menjanjikan, bagaimana tidak? dengan rutinitas pekerjaan kantor harian saya saja cukup menguras waktu dan tenaga saya, bagaimana saya akan memulai berbisnis secara online? jika saya tidak memiliki cukup waktu untuk intens mengelola bisnis secara online. Selain hal itu saya juga tidak memiliki ketrampilan dalam membuat atau mengelola aplikasi online untuk berbisnis, pendek kata saya tidak punya ilmu IT untuk mengembangkan bisnis itu.
Saya tidak munafik setiap melihat produk pakaian muslim wanita ataupun kerudung secara online  selalu tertarik dan ingin mencoba berbisnis secara online. Selama ini saya tidak begitu tertarik untuk berbisnis karena saya lebih sering menjadi pembeli sekalian ingin membuktikan apakah benar bisnis online itu adalah bisnis yang abal abal saja, ya memang saya sudah siap resikonya kalau uang saya akan hilang jika ternyata barang yang saya inginkan tidak terkirim kepada saya. Tapi setelah melihat kesuksesan teman teman lama saya yang sukses dengan berbisni akhirnya tertarik juga, tapi tetep aja bingung bagaiman harus memulai isnis secara online ya? hal itu lah yang sudah lama saya pikirkan dalam benak "Online Business?, Bisa gak ya ?".

Setelah gabung dengan ODOA, membuat wawasan dan pikiran saya menjadi lebih terbuka dan saya senang karena saya lebih banyak mengenal orang-orang sukses dari ODOA, trimakasihku terkhusus untuk mbak Wuri Nugraini yang sudah membawaku bergaul dengan orang orang sukses seperti Ibu Indari Mastuti, Mbak Zeti Arina dan mbak Muri Handayani. Dengan keterbatasan ilmuku di bidang IT ya akhirnya sampai saat inipun saya  belum bisa memulai bisnis saya secara online. Sepertinya saya harus banyak belajar dengan mbak Muri Handayani nih dengan bergabung pada Online Business Coach. 
Sebagai langkah awal, saya baru memulainya di BBM dengan memberikan label bisnis saya "Laela's Tuppy Galery". Dan baru teman teman dekat saya aja yang bisa melihat galeri saya ini, mau nyoba ke blogger blm punya banyak ilmunya jadi musti belajar blog lebih dalam lagi.  Bismillah dengan bergabungnya saya di ODOA ini semoga menjadi awal yang baik untuk memulai bisnis saya secara online.

Senin, 10 November 2014

Kesibukanku Bersama Keluarga Kecilku

Hari berganti hari dan bulanpun berganti bulan. Tak terasa kedua anak sholehku (Nayla Zain dan Zaky Akhmad) sekarang makin tumbuh besar dan cerdas. Terkadang saya merasa berdosa karena tak dapat menemani mereka sepanjang waktu pada masa pertumbuhannya di tahun tahun yang lalu, hal itu karena  saya harus membagi waktu saya untuk bekerja. Mungkin kerepotan saya saat ini sudah mulai lebih berkurang karena sekarang Kak Nayla sudah kelas 2 SD dan Dek Zaky TK B sehingga kami lebih banyak bersama, tidak seperti dulu ketika Kak Nay duduk di bangku Tk dan Dek Zaky belum sekolah karena saya harus membagi waktu untuk mengantar sekolah kakaknya dan menitipkan adik nya di TPA Griya Asyik, sehingga hal itu yang membuat saya lebih sering datang terlambat ke kantor. Apa boleh buat itu tanggungjawab saya sebagai seorang Ibu sehingga apapun resiko yang harus saya hadapi di kantor tidak akan mengubah saya untuk melepas tanggung jawab saya terhadap kedua anak sholehku.

Rutinitas harian Kami saat ini alhamdulillah sering kami lakukan bersama. Kak Nay dan Dek Zaky selalu bangun jam 5 pagi setelah saya selesai mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka selepas sholat tahajud, kemudian kami sholat subuh bersama tanpa Abahnya, karena beliau harus ke masjid . Saya senang karena alhamdulillah meskipun rutinitas pagi ini berat bagi ke dua anak sholehku namun ternyata Kak Nay dan Dek Zaky sudah mulai terbiasa dengan rutinitas pagi itu. Setelah mereka mandi dan sarapan selepas kami shalat subuh bersama, kami segera meninggalkan rumah pukul 06.00 menuju ke sekolah Kakak dan Adik yang berjarak sekitar 4 km sehingga seperempat jam waktu yang kami butuhkan untuk menuju ke TK-SD Tunas Harapan.

Setelah melepas mereka untuk belajar di sekolah, kemudian saya segera berangkat ke kantor sehingga Alhamdulillah sekarang saya hampir tidak pernah datang terlambat ke kantor bahkan saya lebih sering datang lebih awal dari teman teman kerja saya. Dan alhamdulillah lagi saya bisa bertemu dengan mereka kembali pukul 17.00 setelah mereka pulang dari belajar mengaji yang merupakan rutinitas harian sore mereka. Saat ini saya berasa sangat dekat sekali dengan mereka, karena dalam sehari kami berutinitas, hanya 4 jam saja kami berpisah dari pukul 13.00 - 17.00 wib karena mereka harus bobok siang dan mengaji di TPQ.

Rutinitas kami bersama sehari hari ternyata masih belum cukup untuk mereka dan mereka masih saja berkata "Umi kok kerja terus sih?". Saya mulai memutar otak, mungkin hal ini karena mereka jenuh dengan rutinitas belajar dan belajar yang mereka lakukan setiap hari. Dengan segerapun saya meminta Abahnya untuk meluangkan waktunya mengajak anak- anak weekend untuk melepas penat dan jenuh dengan rutinitas harian. Biar terlihat kompak saya siapkan kaos yang sama untuk Abah, Adik dan Kakak Pollo Yellow shirt



Alhamdulillah hari minggu kmrn (9/11) kami sempatkan untuk berlibur bersama anak ponakan saya ke banaran swimming pool dan cimory. Kami memilih Banaran Swimming Pool karena anak anak paling suka berenang. Kami bertiga berenang bersama menikmati segarnya air kolam dan bermain dengan mainan yang ada di sana. Dek Zaky begitu bersemangat bolak balik main plorotan air meskipun dia belum bisa berenang layaknya Kakaknya.



Kak Nayla juga seneng sekali, dia selalu minta ditemani di kolam renang dengan kedalam 1,5 m, mungkin karena kakak lebih merasa tertantang jika berenang di kedalaman 1,5 m meskipun tinggi badannya sangat kurang dengan kedalaman kolam renang seukuran itu. Melihat mereka di wahana berenang rasanya lega sekali, sepertinya mereka sangat menikmati liburannya.

Setelah kami capek berenang kami segera menuju ke cimory. meskipun adik dan kakak sempat tertidur sepanjang perjalanan menuju cimory.  Pemandangan yang luar biasa bagus karena jarang sekali kami temui pemandangan indah seperti ini. "Narsis dulu ah" biar punya kenangan kl kita pernah ke tempat ini. Sesampainya di cimory adik dan kakak segera bangun karena mereka tidak ingin melewatkan moment ini untuk melihat pabrik susu, peternakan sapi perah, perkebunan yang ada di sekitar peternakan sapi perahnya dan melihat para peternak yang sedang memerah susu dan memberi makan sapi Australia yang dipelihara di peternakan itu.

Seneng rasanya ketika kita mulai memasuki perkebunan dan peternakan sapi perahnya, untuk masuk ke wisata perkebunan dan peternakan di sana hanya dikenai HTM yang sangat murah yaitu Rp 5.000 aja gratis Duo Milk seharga Rp3.000,-.  "murah kan?" Dek Zaky  yang pemberani terlihat sedang mengelus kepala sapi australia itu.Senengnya punya anak yang pemberani

Kamis, 06 November 2014

Terinspirasi Eko Ramaditya Adikara

Tidak banyak orang mengenal Eko Ramaditya Adikara yang sering dipanggil dengan sebutan Ramaditya. Begitu pula dengan saya, Saya mengenalnya setelah saya mengikuti sebuah talkshow IAIN Surakarta Membaca bersama Andy Flores Noya kemarin tanggal 6 November 2014 bertepatan dengan ulang tahun Andy di IAIN Surakarta. Talkshow tersebut bertemakan Membaca sebagai gaya hidup (Reading for Life stile). Awalnya saya heran kok sebagai gaya hidup maksudnya apa? saya rasa membaca adalah suatu hal yang biasa saja, hal ini mungkin karena saya jarang sekali membaca sehingga saya menganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang  tidak ada istimewanya.


Pada Talkshow tersebut Andy mengajak seorang tunanetra bernama Ramaditya. Ramaditya adalah seorang tuna netra yang terlahir dalam keadaan buta bawaan. Dengan keterbatasan yang dimilikinya MasyaAllah dia memiliki kecerdasan melebihi orang normal lainnya. Saat ini Ramaditya telah menyelesaikan Study S2 nya beberapa bulan yang lalu. Ramaditya ini sosok tunanetra yang merasa bahwa dirinya tidak tuna netra karena dia dapat mengetahui semua yang ada di dunia ini dengan membaca. Sejak kecil Ramaditya suka membaca, dan yang  lebih anehnya lagi dia bisa membaca di kegelapan karena dia membaca dengan menggunakan telinganya. 

Pada Talkshow tersebut Andy membawa kita untuk lebih memaknai hidup dengan kesempurnaan yang kita miliki saat ini. Andy memperkenalkan Ramaditya dengan kelebihan yang dimilikinya sebagai seorang tuna netra bawaan yang memiliki banyak profesi yaitu dia seorang dosen, trainer, jurnalist dan penulis novel (mata ke dua dan hati kedua). Novelnya yang berjudul hati kedua ini dia tulis bersama seorang wanita yang saat ini telah berpulang ke rahmatullah, yaitu mbak Achi TM. Wanita tersebut adalah wanita yang membimbing rama dan menyekolahkan rama sehingga seperti saat ini.

Talkshow tersebut berlangsung dengan penuh haru tapi menghibur karena ternyata ramaditya seorang yang humoris. Rama menceritakan bahwa dengan kekurangannya ini dia sering sekali mengalami kecelakaan seperti pada saat di berjalan bersama temannya di kampusnya secara reflek teman yang berjalan bersamanya melompat tanpa memberi tahu rama selang beberapa detik kemudian ternyata rama sudah terjatuh di sebuah kubangan yang berisi genangan air, sontak teman nya bilang "Maaf, Rama saya lupa kalau kamu tuna netra", hal itu karena memang rama orang yang mudah bergaul bahkan dia merasa bukan seorang tuna netra oleh karena itu temannya sering kali lupa dengan kekurangan yang dia miliki. 

Sungguh mengharukan,  sedih rasanya melihat Ramaditya yang saat itu berusaha memperkenalkan dirinya  dengan keterbatasan yang dia miliki MasyaAllah luar biasa menyentuh hatiku saat rama meperlihatkan dirinya mengkolaborasikan seruling dengan musik yang ada dalam laptopnya, lantunan musiknya bagus sekali. Mungkin inilah yang dikatakan bahwa membaca sebagai gaya hidup, karena rama menggunkan laptopnya untuk membaca beberapa novel dan artikel yang ada di internet dengan menggunakan telinganya karena laptopnya telah dilengkapi dengan aplikasi untuk tunanetra. Selain dengan laptopnya dia pun juga menggunakan android touch screen layaknya orang normal lainnya 

MasyaAllah semoga ini bisa menjadi sebuah motivasi untuk menjadi orang yang mampu berkarya dengan kesempurnaan yang diberikan Allah kepada kita. Bismillah Ramaditya seorang tuna nutra bawaan saja mampu berkarya, kitapun juga harus bisa memberikan yang terbaik, mumpung masih diberikan kesempatan hidup dari Allah dengan kesempurnaan yang kita miliki.


Selasa, 04 November 2014

Hidup Tak Lepas dari Pajak

Kehidupan adalah hal yang sangat menarik untuk di ceritakan, karena tiap manusia memiliki cerita yang berbeda dalam kehidupannya. Beberapa orang dari kita memikirkan sungguh berartinya sebuah kehidupan ketika mereka telah dihadapkan pada suatu kejadian yang membuatnya hampir saja kehilangan nyawa. Banyak pula orang yang mempertanyakan begitu tidak berartinya kehidupan ini? ketika mereka dihadapkan pada suatu kejadian yang menyudutkan dirirnya pada suatu permasalahan yang sangat rumit. lantas yang menjadi pertanyaan adalah apakah arti kehidupan sebenarnya? Saya perlu menyisihkan waktu untuk benar benar memikirkan hal ini dengan serius.Menurut saya hidup itu adalah ibadah, jadi kehidupan adalah segala sesuatu yang kita lakukan dalam keseharian yang kita niatkan untuk beribadah kepada Allah SWT. adapula yang mengartikan bahwa dalam hidup itu harus take and give, yaitu saling memberi dan saling menerima.

Saya rasa pada kedua pengertian diatas tidak ada salahnya, artinya kedua pengertian diatas memang selalu kita terapkan pada kehidupan kita sehari-hari. hidup itu take and give, so kata ini benar benar mengharapkan kita untuk lebih sering memberi pada sesama dan menerima setiap saran ide dan masukan dari orang lain. memberi sama hal nya berinfak atau dengan kata lain memberikan sesuatu milik kita untuk orang lain agar dapat dimanfaatkan. sedangkan menerima adalah suatu hal yang baik untuk kita terima sehingga dapat termanfaatkan dengan baik.

Menilik profesi Zeti Arina yang berkecimpung di dunia perpajakan, terpetik di benak saya untuk menghubungkan perpajakan dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan kita tak jauh dari pajak kehidupan yang sangat beragam. seperti halnya ketika mampir ke pom bensin untuk buang hajat saja harus mengeluarkan sedikit rupiah dari kantong kita,   selain itu ketika kita ingin makan di sebuah resto juga selalu tertera pajak pada struk yang kita bayarkan apalagi ketika kita belanja di mall juga pada struk belanja tertera pajak, ternyata kehidupan tidak lepas dari pajak karena dimanapun kita berada selalu saja ada yang harus di bayarkan, kata banyak orang bilang mau hidup kok gratis, kl mau gratis ke liang lahat saja.

Padahal jika dalam sehari kita hitung saja berapa banyak pajak yang harus kita keluarkan saat beraktifitas tenyata juga tidak sedikit, apalagi jika dihitung perminggu, perbulan atau bahkan pertahun. wuiiis luar biasa banyak sekali. dan itu baru 1 orang bagaimana jika dalam satu keluarga ada 4 orang, bisa pusing untuk menghitungnya. Sudah bisa hidup serba cukup saja sudah sukur alhamdulillah. Ternyata memang hidup tak lepas dari pajak.

Daftar Haji atau Study Lanjut ?

Seneng banget bisa gabung ADOA tapi saya bingung karena tiap hari harus belajar mengeluarkan ide baru, Bismillah saya akan coba lagi di ODOA 4 November 2014
Hari ini saya coba angkat tulisan tentang Daftar Haji atau Studi Lanjut?

Melihat kepulangan teman kerja saya dari tanah suci sebulan lalu, membuat saya ingin sekali bisa seperti dirinya. Bagaimana tidak, begitu senang dan bahagianya beliau menceritakan kesan-kesannya selama disana. Dalam hati "kapan ya saya bisa berangkat ke sana?" . Keinginan untuk berangkat ke sana adalah suatu impian yang terpendam cukup lama, dan alhamdulilllah sampai saat ini belum bisa saya dapatkan kesempatan itu (sambil manyun dan gigit jari). Karena penasaran gimana sih supaya bisa berangkat kesana, akhirnya sehari kemudian aku putuskan untuk pergi ke bank untuk menanyakan hal tentang haji karena kebetulan alhamdulillah ada sedikit tabungan yang memang telah saya rencanakan untuk berangkat ke tanah suci.

setelah mendapat beberapa penjelasan dari bank yang mengurusi haji dan umroh, akhirnya saya harus berfikir dua kali untuk mendaftar haji sekarang. karena ternyata untuk mendapat kuota kursi harus meminjam sejumlah uang yang tidak sedikit sedangkan saat ini ada keinginan lain juga yang ingin saya wujudkan yaitu study lanjut. Manusiawi kan ? kalau saya banyak keinginan. Saat ini yang saya inginkan adalah saya bisa mendapatkan kuota haji dan bisa melanjutkan study saya di magister perpustakaan. Tung itang itung mana ya? yang harus saya ambil terlebih dahulu karena saya ingin dua hal ini bisa berjalan beriringan.

Karena bingung mana yang harus saya pilih, akhirnya saya mulai tanya sana sini tentang haji ataupun studi lanjut ke orang orang yang telah melaksanakan haji ataupun studi lanjut. Tiap orang memiliki cara berpikir yang berbeda ada yang bilang haji dulu karena untuk berangkat haji membutuhkan waktu yang lama untuk bisa berangkat, alias ngantri. Adapula yang bilang study lanjut dulu ntar kl keburu tua jadi males study lanjut.

haji dan study lanjut memang dua hal yang penting, tapi setelah saya berfikir panjang dan atas petunjuk Alllah saya memilih untuk mendapatkan kuota haji terlebih dahulu karena memang untuk berangkat haji tidak semudah yang kita bayangkan, asal ada uang bisa berangkat, tetapi harus ngantri dulu, untuk study lanjut kalau memang berniat insyaAllah ada rejeki pasti dapat dilaksanakan seketika jika telah ada lebih rizky.

Saya terinspirasi oleh Zeti Arina seorang konsultan pajak yang memilih untuk berangkat umroh terlebih dahulu meskipun pada saat yang bersamaaan beliau dihadapkan pada pilihan pekerjaan yang dapat menghasilkan rupiah 10 kali lipat dari ongkos umroh keluarganya. Luar biasa ternyata setelah berangkat haji beliau mendapatkan ganti mendapat kontrak pekerjaan yang sangat fantastis dan ayahnya disembuhkan dari sakitnya. Akhirnya hal itu lebih memantapkan saya untuk memilih mengambil kuota haji terlebih dahulu sebelum melakukan study lanjut, karena saya yakin dengan waktu tunggu haji saya yang relatif cukup lama insyaAllah saya bisa study lanjut sebelum saya berangkat haji pada waktu yang ditentukan nanti. Amiin semoga barokah.






Sabtu, 01 November 2014

Tantangan Untukkku

Setelah apa yang kucapai dalam perjalanan hidupku sebagai seorang Pustakawan dengan predikat Pustakawan Berprestasi ini ternyata justru membuatku merasa lebih banyak tantangan yang harus aku lalui, karena predikat tersebut aku harus siap menjadi centre of attention di lingkungan kerjaku. tentunya aku masih harus banyak belajar dalam berujar dan bersikap. kedua hal tersebutlah yang membuatku sulit sekali untuk merubahnya karena tipical aku adalah orang yang rame, suka bercanda yang terkadang sering kebablasan, selain itu saya juga harus banyak jaga sikap dalam bertingkah laku.
sebagai seorang Pustakawan pengetahuanku dalam kepustakawanan sangat dangkal sekali meskipun aku sudah menggeluti profesi tersebut 10 tahun, rasanya seperti tertidur dalam kurun waktu 10 tahun sehingga tak berasa ternyata dunia kepustakawan saat ini sungguh luar biasa, hal ini karena didukung sebuah teknologi yang mulai mengubah dunia dan komunitasnya mulai bergantung pada teknologi yang makin hari makin berkembang.
Tantangan ini makin berasa untukku ketika aku mulai bergabung di UPT Perpustakaan Unissula Semarang, karena dengan motto Cyber Library secara tidak langsung menuntut para Pustakawannya untuk lebih mengetahui informasi dan teknologi sebagai penyeimbang perkembangan teknologi perpustakaan saat ini. Di UPT Perpustakaan Unissula ini banyak sekali tantangan dalam setiap item pekerjaan  karena di setiap bidang pekerjaan yang dilakukan  oleh Pustakawan Unissula benar-benar mendapatkan monitoring langsung dari atasan (Kepala Perpustakaan). Ibu Ummu Adillah selaku Kepala Perpustkaan kami selalu menghimbau kepada kami agar kami dapat meningkatkan kualitas diri minimal dengan cara belajar menulis atau membuat sebuah tulisan yang sukur-sukur dapat termuat di suatu media tercetak seperti surat kabar dan majalah.
menarik juga himbauan dari beliau selaku Kepala Perpustakaan dan hal itu benar-benar menggugah semangatku untuk berusaha membuat sebuah tulisan yang menarik dan enak untuk di baca, meskipun hal itu sulit untuk kulakukan karena aku tidak terbiasa menulis. Dari himbauan tersebut aku mulai membuat sebuat tulisan yang sederhana dan berusaha untuk mengirim tulisan tersebut tapi sayang ternyata tulisanku belum pantas untuk dipublikasikan di sebuat surat kabar, meskipun awalnya aku sempat girang karena mendapat jawaban yang menyenangkan dari sebuah surat kabar harian metro riau. hal tersebut tidak membuat patah arang untuk mencobanya lagi meskipun agak malas untuk menulis.
karena penasaran dan ingin tahu banget gimana sih caranya agar tulisan kita enak dibaca dan bisa termuat di media akhirnya aku berusaha follow ke group fb menulis IIDN (ibu ibu doyan nulis) yang menghantarkan aku bertemu dengan Ibu Indari Mastuti Direktur at Indscript.creative. Melalui fb  profil beliau akhirnya aku tertarik dengan note "Kenapa Personal Brand Itu Penting?". Sepanjang perjalanan pulangku dari kantor note tersebut tidak mau hilang dalam pikiranku yang akhirnya timbullah sebuah ide bagaimana jika personal branding tersebut aku aplikasikan dengan ilmu perpustakaan yang aku miliki.  Tanpa pikir panjang pun akhirnya aku berusaha membuat sebuah tulisan tentang personal branding  yang kuaplikasikan dengan ilmu perpustakaan. 

Aku semangat untuk membuat tulisan tersebut karena kebetulan ada sebuah ivent yang menantang untukku yaitu lomba Pustakawan Berprestasi tingkat Kopertis wilayah VI Jawa Tengah tahun 2014, dimana dalam lomba tersebut pustakawan harus membuat makalah tentang kepustakawanan untuk dipresentasikan di hadapan juri.  Dengan usaha kerasku mencari beberapa artikel dan tulisan tentang personal branding dan kepustakawanan akhirnya jadilah makalahku dengan judul "Personal Branding Pustakawan sebagai Pendukung Brand Image Perpustakaan" yang alhamdulillah berhasil kupresentasikan di hadapan para juri lomba Pustakawan Berprestasi tingkat Kopertis wilayah VI Jawa tengah dan lagi lagi alhamdulillah     
https://library.unissula.ac.id/pustakawan-unissula-juara-2-pustakawan-berprestasi-tingkat-kopertis-6-jawa-tengah/
 
Ini baru langkah awal untuk memulai menjadi seorang Pustakawan yang sesuai dengan tuntutan zaman. selain itu harus banyak belajar dan menimba ilmu dengan orang orang yang berpengetahuan lebih. Bissmillah aku ingin berusaha untuk menulis lagi semoga ini menjadi awal yang baik yang sekaligus menjadi tantangan bagi saya untuk lebih maju dengan memulai membuat sebuah tulisan