Jumat, 10 Oktober 2014

Makalahku gagal tembus Nasional

Sedih ......., itu hal manusiawi jika setiap orang yang mengharapkan sesuatu yang diinginkannya ternyata lepas atau meleset dari dugaannya. kata itulah yang kualami kemarin tepatnya tanggal 7 Oktober 2014 setelah menerima sms dari Dosen Ilpus Ibu Endang Fatmawati "Mbak Laela yang sabar ya ? ternyata mbak Laela belum lolos tingkat Nasional". Kaget, malu dan beribu perasaan berkecamuk di hatiku, tetapi aku berusaha menerima ketentuan Allah, mungkin memang aku harus banyak belajar lagi.
Jika membayangkan proses yang harus aku lalui untuk  mempersiapkan seleki Dikti begitu banyak menguras tenaga dan biaya, dalam waktu dua minggu aku bersusah payah berusaha mengunggah beberapa instrumen kelengkapan lomba dalam bentuk PDF ke Web Dikti yang susah sekali diakses, entah karena jaringan internet di kantor kami yang lola atau koneksi internet tri yang lola juga karena selain di kantor dan di rumah tetap saja intrumen tersebut susah sekali terupload.
Alhamdulillah aku bisa menepis perasaan itu dan berusaha membangkitkan hatiku dengan ucapan "Ajang berprestasi tidak hanya DIKTI saja, masih banyak jalan terbuka jika aku mau berusaha untuk melewatinya alias banyak jalan menuju Roma". Karena makalahku ini tidak tembus tingkat Nasional, paling tidak bisa tampil di blog pribadiku (sambil melet n nyengir :P)

Berikut ini makalah yang saya tulis dalam ajang tersebut

PERSONAL BRANDING PUSTAKAWAN
SEBAGAI PENDUKUNG BRAND IMAGE PERPUSTAKAAN


I. Pendahuluan

1.1.Latar Belakang

Saat ini sangat marak sekali perihal pencintraan seseorang, tidak hanya seorang artis saja yang sering melakukan pencitraan bahkan seorang public figure seperti para pengusaha dan politikus pun sedang heboh dengan sebuah image tentang pencitraan. Pencitraan lebih sering dikaitkan dengan Personal Branding yang saat ini lebih banyak dilakukan orang-orang untuk mengangkat namanya agar banyak dikenal di masyarakat. Hal ini sering dilakukan oleh seseorang yang berusaha mengenalkan dirinya ke khalayak yang kemudian ditangkap secara positif oleh lingkungan atau komunitas di mana dia berada.

Personal Branding yang dilakukan dengan bagus, kata Iman N Bayoeadji, Komisaris Human in Partner (HIP) dan Dosen di beberapa perguruan tinggi saat talkshow inspirasi solusi di Suara Surabaya (01/03), bisa berimplikasi lebih luas, tidak hanya menyangkut si individu tetapi juga terhadap lembaga, institusi, atau perusahaan. Bahkan Implikasi Personal Branding terhadap sebuah perusahaan ini tampaknya belum banyak disadari.

Seiring perkembangan jaman yang menuntut seseorang untuk lebih inovatif akhirnya banyak orang memulai memperkenalkan dirinya ke masyarakat agar dia menjadi sebuah brand yang lebih dikenal banyak orang sehingga dia lebih mudah diterima masyarakat tanpa harus melalui suatu proses yang rumit untuk bisa menjadi terkenal. Banyak orang yang akhirnya menyadari perlunya Personal Branding dalam dirinya, untuk meningkatkan nilai tambah penampilan dan pandangan orang lain atas dirinya. 

Sama halnya dengan seorang pustakawan, selama ini masyarakat tidak banyak mengenal pustakawan, yang mereka ketahui bahwa seorang pustakawan adalah orang yang menjaga perpustakaan, menata buku, nonton televisi dan bermalas-malasan. Pustakawan sebagai pendukung perkembangan perpustakaan pada suatu institusi perguruan tinggi negeri maupun swastapun memerlukan Personal Branding yang bagus pada dirinya, hal tersebut dilakukan untuk mengubah image masyarakat tentang seorang pustakawan.

Saat ini Personal Branding tidak banyak dimiliki oleh pustakawan, tetapi pustakawan yang sukses pasti memiliki Personal Branding yang bagus. Personal Branding yang terpancar dari pustakawan, bisa menjadi positif atau negatif tergantung bagaimana pustakawan tersebut menampilkannya. Seorang pustakawan memerlukan Personal Branding untuk mempersepsikan tentang dirinya kepada pecinta perpustakaan atau pemustaka. Tentunya citra positiflah yang akan di perkenalkan kepada pemustaka.

Dengan citra positif yang dimiliki dan dibangun oleh pustakawan diharapkan mampu mengangkat citra atau Brand Image perpustakaan sebagai tempat bernaung seorang pustakawan dalam mengembangkan ilmu kepustakawanannya.

1.2. Rumusan Masalah

Terkait tentang pencitraan seorang pustakawan, Apakah Pustakawan mampu menampilkan Personal Branding dalam dirinya di dunia kepustakawanan? hal itu perlu di dukung oleh kekuatan pribadinya  serta perpustakaan yang mendukungnya untuk menumbuhkan kekuatan baru yang lebih dikenal dengan Personal Branding Pustakawan. Dari hal tersebut dapat penulis rumuskan permasalahan dalam makalah ini yaitu :

1. Bagaimanakah membentuk personal branding dalam diri seorang pustakawan ?
2. Bagaimanakah strategi yang dilakukan pustakawan untuk membrandingkan dirinya dalam rangka mendukung brand image perpustakaannya ?
3. Bagaimanakah pengaruh personal branding pustakawan terhadap brand image perpustakaan ?

1.3.Tujuan Penulisan

Dalam perkembangan kepustakawanan Indonesia saat  ini Personal Branding belum begitu dikenal banyak pustakawan, oleh karena itu penulis ingin mengangkat sebuah makalah dengan judul "Personal Branding Pustakawan sebagai Pendukung Brand Image Perpustakaan"
ini dengan tujuan :
  1. Ingin mengetahui bagaimanakah membentuk Personal Branding dalam diri seorang pustakawan
  2. Ingin mengetahui strategi yang harus ditempuh seorang pustakawan untuk membrandingkan dirinya
  3. Ingin mengetahui pengaruh Personal Branding pustakawan terhadap brand image perpustakaan
II. Landasan Teori.

Untuk menjawab permasalahan di atas, penulis menggunakan pendekatan teori sebagai landasan dasar untuk mencari solusi dalam permasalahan di atas, yaitu dengan mencari rujukan tentang pengertian brand, branding, personal branding dan pustakawan serta memadukan ke-empat istilah tersebut dan menyimpulkannya menjadi sebuah istilah yaitu tentang pengertian Personal Branding Pustakawan.

Brand Tom Duncan (2005:71) dalam Alifahmi (2012) mengatakan, 

        “Brand is a perception resulting from experiences with, and information 
          about, a company or a line of products”. 

Pengertian tersebut mengantarkan kita ke pemahaman bahwa sebuah brand adalah sebuah persepsi yang dihasilkan dari pengalaman dan informasi mengenai perusahaan atau produk. Pengertian yang agak berbeda dikemukakan Schneider dkk. (2006:654-655) yang mengatakan, 

            ”a brand is a name, term, design, symbol, or combination of these elements that identifies 
                    a product or service and ditinguishes it from its competitors. A brand can be used 
                    to identify one product, a family of related products, or all products of a company.”.

Schneider beserta rekan-rekannya mengatakan bahwa brand adalah nama, istilah, desain, simbol, atau kombinasi dari berbagai hal tersebut yang mengidentifikasikan dan membedakan sebuah produk atau pelayanan dengan pesaingnya. Konsep tentang pembeda dilengkapi oleh Schneider dan rekan-rekannya. Pengertian itu sejalan dengan pengertian Alifahmi (2012) yang mengatakan “Sebuah merek (brand) merupakan persepsi yang berasal dari pengalaman atau informasi suatu produk. Karena itu, mereklah yang membedakan suatu produk dengan yang lain. “

Branding

Tom Duncan dalam Alifahmi (2012) mengatakan 

                        “Branding, the process of creating a brand image that engages the hearts 
                    and minds of customers, is what separates similar products from each other. “ 

Branding ini adalah usaha untuk membangun brand yang menyasar hati dan pikiran konsumen yang telah terbagi dengan produk-produk sejenis. Sebagai contoh Dunkin’ terkenal dengan donatnya, Harley dengan davidsonnya, begitu pula Yusuf Mansur dengan sedekahnya.

Personal Branding

Menurut Montoya (2009) bahwa “Personal Branding adalah image yang kuat dan jelas yang ada di benak klien anda mengenai diri anda sendiri. Tiga aspek penting personal brand tersebut adalah anda sendiri (you), janji (promise) dan hubungan (relationship).” Berikut ini pyramid pencapaian Personal Branding menurut William Arruda yang penulis kutip dari (Image source: © 2000, 2009. Reach Communications Consulting, Inc)

Pustakawan
Dalam undang-undang No.43 tahun 2007 Republik Indonesia dan Peraturan Pemerintah no.24 tahun 2014 tentang Perpustakaan menjelaskan bahwa Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.

Personal Branding Pustakawan
Dari pendapat beberapa pakar mengenai brand, branding dan personal branding dan di dukung oleh undang-undang Republik Indonesia no.43 tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no.24 tahun 2014 tentang Perpustakaan. akhirnya dapat penulis simpulkan bahwa Personal Branding Pustakawan adalah Image yang kuat dari seorang pustakawan dengan kemampuan pendidikan kepustakawanan yang dimilikinya untuk mengangkat nama (brand) perpustakaan yang dinaunginya.

III. Pembahasan

Antara Pustakawan dan Perpustakaaan adalah dua hal yang sangat terkait dan bersinergi karena jika dua hal tersebut terpisah, maka keduanya pun tidak akan dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana mestinya. Di era informasi teknologi yang makin berkembang ini semakin memudahkan segala sesuatu untuk memperkenalkan diri ke khalayak, begitu pula dengan perpustakaan, dengan fasilitas sosial media yang terkoneksi dalam jaringan interet lebih memudahkan perpustakaan untuk lebih di kenal di seluruh penjuru dunia sehingga sebuah perpustakaan yang bagus baik dari segi fasilitas dan content perpustakaannya dapat menjadi sebuah brand jika di kemas dengan baik dan diperkenalkan pada sosial media. 

Perpustakaan yang telah memiliki branding akan berkembang stagnant bila tidak di dukung oleh pustakawan yang mumpuni di bidangnya, oleh karena itu dibutuhkan personal branding pustakawan untuk mendukung brand image Perpustakaan.

Untuk menciptakan personal branding dalam diri seorang pustakawan dapat dilakukan dengan mengaplikasikan pyramid personal branding pustakawan yang penulis aplikasikan dari Pyramid personal branding yang dikemukakan oleh William Aruda. Personal branding pustakawan dalam mendukung brand image perpustakaan dapat diimplementasikan melalui empat tahap dari 6 tingkatan pyramid personal branding yaitu brand stability (stabilitas merk), brand discovery (penemuan merk), brand comunication (komunikasi merk), dan brand environtment (lingkungan merk).

1. Brand Stability (stabilitas merk)

Dalam Brand Stability, Perpustakaan sebagai tempat bernaung seorang Pustakawan menjadi suatu foundation atau dasar dalam melakukan suatu aktivitas, dimana Pustakawan dapat melakukan segala aktivitas kepustakawanannya jika didukung oleh tempat kerja yaitu Perpustakaan. Di Perpustakaan seorang Pustakawan selayaknya tuan rumah atau si pemilik tempat dengan bebas dapat menentukan pola kerja sebagai pendukung pekerjaan mereka, sehingga Pustakawan mampu menguasai hal hal yang tercakup di Perpustakaan. pada tahap Brand Stability ini sebagai pondasi atau pijakan pertama seorang Pustakawan untuk melangkah karena tanpa sebuah institusi, Pustakawan tidak akan mampu mengeksplorasi kemampuannya dalam bidang kepustakawanan.

Sebagai brand stability dalam pijakan utama pustakawan dalam memulai langkahnya, perpustakaan yang dinaunginya minimal memiliki brand yang bagus. Perkembangan jaman yang serba digital menuntut sebuah Perpustakaan sebagai brand company juga harus memiliki branddigital library. Perpustakaan yang memiliki brand image yang bagus lebih banyak mengedepankan CARE pada pemustaka.

C – Comfortable and Clean Libraries
 Bangunan dan peralatan terawat dengan baik
 Furniture yang nyaman
 Pencahayaan yang bagus dan terang

A – Attention to Your Needs
 Pustakawan dan staff yang bersahabat
 Dapat memberikan rujukan dan jawaban yang tepat waktu
 Menghormati privasi pemustaka
 Siap menerima kritik dan saran

R – Reliable Resources in a Variety of Formats
 Koleksi up to date
 Meningkatkan web site
 Meningkatkan teknologi layanan

E – Exceptional Library Services
 Staff terlatih dan pustakawan yang kompeten
 Memberikan layanan secara one-on-one
 Menampilkan program yang menginspirasi

Berikut ini contoh perpustakaan yang memiliki brand Cyber Library.

gbr ????????

Gambar.1 Contoh Brand Image Perpustakaan Cyber Library

2. Brand Discovery (penemuan merk)

Pustakawan yang telah mengetahui banyak tentang hal hal yang tercakup di perpustakaan akan mulai menemukan jati diri sebagai Pustakawan yaitu dengan mengemukakan segala aspirasinya pada perpustakaan dan berusaha membuat aspirasinya berbeda dengan aspirasi pustakawan lain sehingga terciptalah brand yang membedakan dirinya dengan pustakawan lain. Dalam membangun personal branding yang bagus, pustakawan perlu membangun “karakter”. Dan mengusahakan agar orang lain tahu karakter yang dimiliki pustakawan. “karakter” tersebut biasanya erat dengan aktifitas yang Pustakawan lakukan sehari-hari sesuai dengan profesinya.

Seorang pustakawan harus berhati-berhati dalam mengeluarkan “karakter”, karena “karakter” sangat menentukan apakah pustakawan tersebut dipersepsikan sebagai person yang positif atau negatif. Jika seorang pustakawan ingin memiliki personal branding yang bagus, harus eksis! Tampilkan jati diri pada setiap kesempatan dengan mengusahakan menghindari hal negatif dalam segala perkataan & tindakan, karena hal tersebut dapat merusak “karakter” seorang pustakawan dalam membangun personal branding. Pustakawan yang memiliki personal branding bagus biasanya memiliki banyak teman dan sahabat. Selain itu juga cenderung “dicari” orang, baik kepala perpustakaan, teman, maupun pemustaka yang sekedar sharing ilmu. Pustakawan yang memiliki personal branding bagus, biasanya dapat mengelola perpustakaan dengan baik sehingga perpustakaan sebagai Company Branding-nya pun akan ikut menjadi bagus. Pustakwan yang memiliki personal branding yang bagus lebih suka “berbagi”, walau sekedar berbagi ilmu. Dengan pemikiran brilliant dari seorang pustakawan dapat menciptakan suatu brand yang membuat terwujudnya perkembangan perpustakaan yang memiliki brand image yang luar biasa. 

Berikut ini contoh brand Stability seorang Pustakawan

Gambar.2 Contoh Personal Branding Pustakawan

3. Brand Comunication (komunikasi merk)

Pustakawan yang telah memiliki ide dan pemikiran yang bagus untuk perpustakaan harus dapat menunjukkan Brand Comunication yang dia miliki yaitu dengan menunjukkan kemampuannya dalam berkomunikasi yang berbeda sehingga terlihat kecakapan pada dirinya dalam mempromosikan perpustakaan kepada masyarakat pemakai perpustakaan. jika kemampuan seorang pustakawan dibangun sebaik mungkin sehingga akan menghasilkan pelayanan yang bagus di perpustakan. Oleh karena itu dengan kemampuan komunikasi yang dimiliki, diharapkan seorang Pustakawan dapat mengkomunikasikan atau memperkenalkan sebuah perpustakaan tempat mereka bekerja kepada masyarakat pemakai perpustakaan. Cara mengkomunikasikan kepada masyarakat pecinta perpustakaan atau pemustaka ini tentunya harus memiliki kemampuan mempromosikan perpustakaan dengan brand comunication. 

Contoh Brand Comunications yang bisa dilakukan oleh seorang Pustakawan yaitu dengan melakukan aktifitas kepustakawanan seperti menyambut tamu dari luar institusi dengan memberikan pengenalan perpustakaan kepada masyarakat di luar institusi, memeberikan pendidikan pemakai kepada pemustaka, menyambut kehadiran tamu yang melakukan study banding pada institusi yang dinauginya seperti pada gambar berikut

Gambar. 3 Contoh Brand Comunication yang dilakukan seorang Pustakawan

4. Brand Environtment (lingkungan merk)

Bila Pustakawan brilliant yang menguasai perkembangan Perpustakaan telah dapat mempromosikan Perpustakaan dengan bagus, maka dia membutuhkan ruang dan waktu untuk melaksanakannya, dan hal ini berhubungan dengan lingkungan yang dibutuhkannya. Sehingga dalam brand environtment ini dibutuhkan conection dan congruence yaitu hubungan masyarakat yang sesuai. Dalam brand environtment ini seorang pustakawan harus lebih giat dalam menjalin hubungan antar pustakawan dengan mengikuti beberapa kegiatan yang kepustakawanan seperti seminar, workshop atau pelatihan, jaringan pustakawan maupun konggres tentang perpustakaan dan kepustakawanan

Contoh Brand Environtment yang bisa dilakukan oleh seorang Pustakawan bisa dilihat pada
gambar berikut

Gambar.4 Contoh Brand Environtmen (seminar)

Dari ke empat tahap tingkatan dalam mencapai Personal Branding Pustakawan, ada keterkaitan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan sebagai pendukung dalam mencapai Personal Branding Pustakawan. Jika ke empat tahap tingkatan pencapaian Personal Brandingyang harus dilalui seorang Pustakawan ini dilaksanakan dengan bagus maka seorang Pustakawan dapat mewujudkan Personal Branding dalam dirinya.. Tolak ukur Personal Branding Pustakawan berhasil, adalah bagaimana para pemustaka memiliki kesanpositifterhadap Pustakawan.

Antara Personal Branding (Pustakawan) dan Corporate Branding(Perpustakaan), akan menghasilkan kekuatan yang dahsyat bila dibangun berkeselarasan.Hal itu tidak hanya akan membawaperpustakaan bertahan tapi juga semakin berkembang. Kondisi perpustakaan yang semakin berkembang ini harus terus-menerus dibangun oleh Pustakawan dalam pengembangannya.Membangun kedua hal itu, perlu dilakukan secara sistematis, dengan penuh kesadaran. Tidak bisa hanya dengan adanya kemauan dari Perpustakaan saja tetapi juga dengan menumbuhkan kekuatan-kekuatan yang dimiliki individu Pustakawan yang mendukungnya.

Metode diatas jauh lebih mudah direalisasikan karena ada sistem yang memang dirancang dengan sadar untuk membangun Personal BrandingPustakawan, sehingga seluruh kekuatan unik yang dimiliki Pustakawan dengan fasilitas dari Perpustakaan untuk mencapai titik puncaknya, sejalan dengan tujuan Perpustakaan. Dengan demikian, nantinya Perpustakaan akan mendapatkan keuntungan karena didukung oleh Pustakawan yang capabel di bidangnya.

Sama halnya dengan branding untuk perpustakaan, Personal Branding bertujuan untuk “memasarkan”. Namun, jika brandingperpustakaan untuk memasarkan profil Perpustakaan, maka Personal Branding untuk memasarkan diri sendiri dan kemampuan yang dimiliki oleh Pustakawan untuk profesi dan karir yang saat ini sedang dijalani.

Hal pertama yang perlu dipahami adalah kekuatan diri dari Pustakawan. Kedua, perlunya perpustakaan yang konsen mendukung Pustakawan yang berusaha menemukan kekuatan diri. Dua hal ini harus saling mendukung untuk menumbuhkan kekuatan baru yang disebut Personal Branding ini.

Untuk mewujudkan personal branding dalam diri pustakawan minimal harus memiliki kompetensi diantaranya :

1. Berkomitmen untuk service excellence.
Dalam memberikan service excellence dapat dilakukan dengan memberikan umpan balik kinerja dan berusaha memberikan perbaikan layanan secara terus-menerus dengan melelakukan survei pemakai. Membantu pemakai perpustakaan untuk menemukan informasi yang relevan dan bernilai. Selain itu juga dapat dilakukan dengan berbagi pengetahuan dengan menggunakan pengetahuan dasar penelitian
kepustakawanan khusus sebagai sumber daya untuk meningkatkan pelayanan.

2. Mampu melihat peluang baik di dalam maupun di luar perpustakaan
Pustakawan berusaha menggunakan pengetahuan dan keterampilan-perpustakaan berbasis yang dimilikinya untuk memecahkan berbagai masalah informasi. Memperbanyak koleksi perpustakaan seperti buku dan jurnal yang sedang banyak dibutuhkan pemustaka di lingkungan institusi maupun di luar institusi. Memonitor
peristiwa dunia yang sedang tren dan berusaha menyediakan informasi up to date. Mengantisipasi tren dan pro-aktif dalam merealisasikan perpustakaan dan layanan informasi untuk mengambil keuntungan dari mereka.

3. Mencari kemitraan
Berusaha mencari mitra dengan sistem informasi manajemen (MIS) profesional untuk mengoptimalkan pengetahuan dan keterampilan yang saling melengkapi. Membentuk kemitraan dengan perpustakaan lain atau layanan informasi dalam atau di luar organisasi untuk mengoptimalkan resource sharing. Berusaha menjalin kerjasama dengan vendor database dan penyedia informasi lain untuk meningkatkan produk dan layanan. Bekerjasama dengan para peneliti di fakultas studi perpustakaan dan informasi untuk melakukan studi yang relevan dan praktis.

4. Menciptakan lingkungan yang saling menghormati menjaga kepercayaan
Contoh praktis: berusaha menghormati dan memberi kepercayaan kepada permustaka dengan memberikan waktu yang tepat sasaran dan mengharapkan pemustaka melakukan hal yang sama. Menciptakan lingkungan pemecahan masalah di mana pemustaka dihargai dan diakui.

5. Memiliki keterampilan komunikasi yang efektif.
Contoh praktis: mendengarkan terlebih dahulu dan kemudian pustakawan berusaha untuk mengembangkan solusi yang akan diberikan kepada pemustaka. Mendukung dan berpartisipasi dalam program-program bimbingan yang akan dilaksanakan oleh institusi yang dinaunginya. Menjalankan pertemuan secara efektif. Menyajikan ide-ide secara jelas dan antusias. Menulis teks yang jelas dan dapat dimengerti. Menggunakan bahasa sederhana. Melakukan permintaan umpan balik pada pemustaka yang ingin memanfaatkan jasa layanan yang diberikan oleh pustakawan.

6. bekerja dengan baik dengan orang lain dalam sebuah tim.
Belajar untuk mencari peluang pada partisipasi sebuah tim. Mengambil tanggung jawab dalam tim baik di dalam maupun di luar perpustakaan. Mentor anggota tim lainnya. Meminta pendampingan dari orang lain ketika dibutuhkan. Terus-menerus mencari cara untuk meningkatkan kinerja pribadi dan orang lain melalui kesempatan belajar formal dan informal.

7. Mempelajari tentang kepemimpinan.
Belajar tentang dan memupuk sifat seorang pemimpin yang baik dan tahu kapan untuk melatih kepemimpinan. Dapat berbagi kepemimpinan dengan orang lain dan membiarkan orang lain untuk mengambil peran kepemimpinan. Latihan kepemimpinan dalam perpustakaan

8. Berencana, memprioritaskan, dan berfokus pada apa yang penting.
Mengakui bahwa, dalam rangka untuk menggunakan sumber daya yang paling efektif, perencanaan yang matang berkelanjutan diperlukan. Mengembangkan pendekatan untuk perencanaan dan manajemen waktu yang menggabungkan keseimbangan tujuan pribadi dan profesional. Tujuan Ulasan secara teratur, memprioritaskan mereka, dan memastikan bahwa sesuai dengan proporsi kegiatan sehari-hari berhubungan dengan tujuan pribadi dan profesional yang paling penting. Mentor orang lain untuk melakukan hal yang sama.

9. Berkomitmen untuk belajar sepanjang hayat dan perencanaan karir pribadi. 
Berkomitmen untuk karir yang melibatkan pembelajaran berkelanjutan dan pengembangan pengetahuan. Membawa tanggung jawab pribadi untuk perencanaan karir jangka panjang dan mencari kesempatan untuk belajar. Mendukung pengembangan pengetahuan berkelanjutan yang menghargai kontribusi orang. Menjaga rasa yang kuat terhadap harga diri untuk pencapaian tujuan dalam mengembangkan diri pribadi dan profesional.

10. Memiliki keterampilan kepustakawanan.
Mengakui bahwa, dalam dunia kepustakawanan harus mampu dan berfungsi sebagai seorang Pustakawan profesional. Berusaha melihat kesempatan yang ada di luar untuk mengembangkan keterampilan dirii. Bersedia untuk mengembangkan loyalitas diri yaitu siap bekerja full-time pada saat dibutuhkan.

11. Mengakui nilai jaringan profesional dan solidaritas.
mengikuti seminar, workshop, pelatihan dan konggress perpustakaan serta menggunakan kesempatan ini untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan, mengakui perlunya sebuah forum di mana para profesional informasi dapat berkomunikasi satu sama lain dan berbicara dengan satu suara tentang kepustakawanan,

12. fleksibel dan positif dalam melanjutkan perubahan.
Bersedia untuk mengambil tanggung jawab yang berbeda di berbagai titik untuk merespon perubahan kebutuhan. Menjaga sikap positif dan membantu orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tidak pernah mengatakan hal itu tidak bisa dilakukan melainkan dengan mencari solusinya terlebih dahulu. Membantu orang lain untuk mengembangkan ide-ide mereka dengan memberikan informasi yang tepat.
Selalu mencari ide-ide baru. Melihat dan menggunakan teknologi sebagai alat untuk menemukan ide-ide baru informasi, produk, dan jasa Perpustakaan.

yang lebih utama seorang Pustakawan harus SMART (smart, marketable, achievable,responsibility, and tangible)

S - Smart : cerdas atau mempunyai intellegensi yang kuat di bidang kepustakawanan
M - Marketable : memiliki nilai jual dalam arti dapat memasarkan dirinya secara pribadi dan institusinya tempat bekerja
A - Achievable : memiliki tujuan yang akan dicapai untuk membrandingkan dirinya
R - Responsible : dapat mempertanggungjawabkan segala tindakan yang dilakukannya
T – Tangible : apa yang diperkenalkannya ke masyarakat adalah sesuatu yang nyata

Cara Pustakawan menjadi Personal Brandingdapat dilakukan dengan menerapkan tahap kedua yang terdapat pada gambar pyramid pencapaian Personal Branding yaitu tahap Brand Discovery, dimana pada tahap ini seorang Pustakawan harus bisa menemukan hal-hal apa saja yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat pemakai perpustakaan tentang diri seorang Pustakawan. Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh seorang Pustakawan untuk membrandingkan dirinya yaitu seorang Pustakawan harus mampu mempresentasikan dirinya dalam beberapa kata agar orang lain dapat dengan mudah mengingat sosok Pustakawan tersebut. Strateginya dapat dilakukan dengan mempromosikan diri melalui media cetak maupun sosial media yang terkoneksi dengan jaringan internet.

Strategi pertama yaitu mempromosikan dirinya melalui media cetak dapat dilakukan dengan membuat sebuah tulisan atau esay tentang kepustakawanan melalui media massa seperti
1. Surat Kabar Harian
2. Majalah
3. Tabloid
4. Jurnal Perpustakaan.

Strategi ke-dua dapat dilakukan dengan mempromosikan dirinya melalui sosial media yang terkoneksi dengan internet yaitu dengan cara :

1. Mampu membuat domain sendiri
Melalui domain yang dibuat Pustakawan sendiri, seorang Pustakawan harus dapat mempromosikan dirinya sendiri atau memperkenalkan dirinya kepada masyarakat pemakai perpustakaan. jika tidak memiliki domain sendiri, minimal seorang Pustakawan memiliki domain institusi tempat dimana Pustakawan tersebut bekerja.

2. Mampu membuat blog pribadi
Melalui blog pribadi, seorang Pustakawan dapat menuliskan pemikiran-pemikirannya secara personal terlebih tentang profesinya di perpustakaan. Selain itu, masyarakat pemakai perpustakaan juga dapat melihat sisi pribadi Pustakawan yang dapat meningkatkan kualitas diri dan berpengaruh kepada dunia perpustakaan yang diperkenalkannya kepada pemakai perpustakaan. Pustakawan harus lebih sering membuat Postingan blog secara berkala dan teratur agar orang-orang mengetahui bahwa blog Pustakawan tersebut aktif.

3. Mampu membuat akun twitter
Pustakawan harus mampu menggunakan sosial media seperti twitter untuk berinteraksi dengan pasar pemakai perpustakaan. Bahas beberapa hal tentang perpustakaan dan kepustakawanan. Kemudian hargai dan jawab pula setiap mention yang masuk dalam akun twitter yang telah dibuat sehingga terwujud komunikasi antar Pustakawan dan pemustaka.

4. Mampu membuat Profil pada halaman Facebook.
Selain twitter, dalam manfaatkan facebook seorang Pustakawan harus mampu membuat profil mereka menjadi terlihat profesional. Gunakan pula foto diri Pustakawan dengan yang jelas. Untuk memudahkan para pemustaka menemukan Pustakawan dengan promosi perpustakaan yang anda tawarkannya denganmenggunakan aplikasi page pada facebook. Melalui aplikasi ini Pustakawan tidak hanya dapat memasarkan dirinya secara pribadi tetapi juga dapat mempromosikan perpustakaan melalui web dan blog untuk menjangkau pemustaka yang menggunakan sosial media facebook.

5. Mampu membuat Profil LinkedIn.
Pustakawan juga harus bisa membuat dan mengisi profil LinkedIn mereka secara profesional. Melalui media ini, Pustakawan dapat memasarkan atau memperkenalkan dirinya secara personal dan terlihat profesional. Selain itu seorang Pustakawan juga dapat menjalin hubungan antar pustakawan (profesional muda) lainnya yang ruang lingkupnya lebih luas sehingga dapat bertukar pikiran melalui LinkedIn Tujuan Pustakawan menjadi Personal Branding yang memfokuskan pada dirinya sendiri untuk mencapai target market dan membentuk bagaimana pola dan cara mereka berpikir tentang diri dan bagaimana mereka memandang diri.Personal Branding Pustakawan dilakukan agar Pustakawan :

 Pustakawan mampu merubah dirinya menjadi berbeda dibandingkan Pustakawan lainnya.
 Pustakawan dapat menarik lebih banyak pemustaka yang dapat menguntungkan perpustakaan yang di naunginya
 Pustakawan dapat sedikit membantu mempertahankan pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan sekalipun perpustakaan sedang sepi pengunjung

Terwujudnya Personal Branding pada Pustakawan pasti akan berpengaruh besar terhadap  Perpustakaan. Sebuah Perpustakaan yang telah memiliki brand image di dunia Perpustakaan tentunya akan dapat mengembangkan Perpustakaannya semakin meningkat dengan dukungan Personal Branding Pustakawan yang dimilikinya. Sehingga terwujudnya Personal Branding Pustakawan sangat mendukung brand image Perpustakaannya.

IV. Penutup

Simpulan

Dari pembahasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa :

1. Dengan mengaplikasi pyramid pencapaian Personal Branding yang dikemukakan oleh William Arruda dalam 4 tahap tingkatan branding maka seorang Pustakawan harus memiliki kemampuan dan kekuatan diri untuk memperkenalkan dirinya dan Perpustakaannya, pada kesempatan yang didukung lingkungan kerja sehingga seorang Pustakawan dapat membentukPersonal Branding pada dirinya di dunia kepustakawanan.

2. strategi yang dilakukan Pustakawan untuk menjadi Personal Branding dalam rangka mendukung brand image perpustakaannya dapat dilakukan dengan 2 strategi yaitu mempromosikan dirinya melalui media cetak dapat dilakukan dengan membuat sebuah tulisan atau esay tentang kepustakawanan melalui media massa seperti Surat Kabar Harian, Majalah, Tabloid, Jurnal Perpustakaan. Strategi ke-dua dapat dilakukan dengan mempromosikan dirinya melalui sosial media yang terkoneksi dengan internet yaitu
dengan cara mampu membuat domain sendiri, mampu membuat blog pribadi, mampu membuat akun twitter, mampu membuat profil pada halaman facebook, dan mampu membuat Profil LinkedIn.

3. Seorang Pustakawan dalam usahanya mempromosikan atau memperkenalkan dirinya kepada pemustaka atau pecinta perpustakaan sangat berpengaruh dalam mendukung brand image Perpustakaan. Tolok ukur bahwa personal branding Pustakawan tersebut berpengaruh pada brand image Perpusakaan dapat dilihat dari meningkat atau tetapnya jumlah pengunjung perpustakan, bertambah atau tetapnya jumlag pengakses web yang dimiliki perpustakaan dan selain itu juga meningkatnnya jumlah pemakai jasa layanan maupun pemakai informasi dan peminjam buku perpustakaan.

Saran
Pustakawan yang memiliki Personal Branding yang bagus pasti dapat mendukung brand image perpustakaannya, maka di era digital seorang Pustakawan sebaiknya harus dapat menguasai digitalisasi sehingga diharapkan dapat memperkenalkan dirinya melalui beberapa sosial network yang kemudian dapat mewujudkan Personal Branding dalam dirinya


V. Daftar Pustaka

Farese, L. Schneider dkk. 2006. Marketing Essentials. Glencoes/McGraw-Hill:US.
Alifahmi. Hifni, Sinergi Komunikasi Pemasaran, Integrasi iklan, PR, promosi, Quantum, Jakarta, 2008
Montoya, Peter. 2009. The Branding Called You. Mc Graw Hill
Undang-Undang RI Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan
Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar